Comments

Terkini
Recent Posts

Senin, 12 Februari 2018



Siklus belajar (Learning Cycle) yang digunakan dalam penelitian ini adalah Learning Cycle  5E. Tahapan pada model ini saling berkaitan satu sama lain dan tidak boleh terputus antar fase satu sama lain, sehingga dapat menjadi siklus seperti gambar berikut:





                                               






Gambar 2.1
Hubungan Fase-fase dalam Learning Cycle 5E
Gambar tersebut dijelaskan secara rinci oleh Lorsbach, kemudian setelah itu muncul penamaan baru pada tiap-tiap tahap dalam model Learning Cycle 5E ini. Siklus belajar (Learning Cycle) 5E berdasarkan pengajaran yang dibangun oleh Biological Sciences Curriculum Study (BSCS) (Rodger dkk, 2006:1) terdiri dari lima tahap, yaitu sebagai berikut:
a.         Engagement (mengajak)
Pada tahap ini guru akan memulai membuat ketertarikan siswa pada topic pembelajaran. Dalam fase ini minat dan keingintahuan (curiosity) siswa tentang topic yang akan diajarkan berusaha dibangkitan. Bertujuan mempersiapkan diri siswa agar terkondisi dalam menempuh fase berikutnya dengan jalan mengeksplorasi pengetahuan awal dan ide-ide mereka serta untuk mengetahui kemungkinan miskonsepsi pada pembelajaran sebelumnya. Fase ini meliputi kegiatan motivasi dan apersepsi yang dilakukan oleh guru. Siswa bertugas untuk memecahkan permasalahan yang disajikan oleh guru pada saat memberikan motivasi tentang materi ajar yang akan disampaikan. Pada fase ini pula siswa diajak membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan dipelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi, dengan mengajukan pertanyaan pada siswa. “Apa yang kalian pikirkan jika ...” atau Mengapa hal ini bisa terjadi?”
Menurut Nadia (2011: 130), aktivitas pada fase engage sebagaimana pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1
 Aktivitas Guru dan Siswa Pada Fase Engagement
No
Guru
Peserta Didik
1
Memunculkan masalah
Memunculkan pengetahuan awal yang dimiliki
2
Mengajukan pertanyaan
Memiliki ketertarikan
3
Menunjukkan perbedaan
Pengalaman yang meragukan
4
Menyebabkan kebimbangan
Memiliki pertanyaan (bertanya)
5
Menilai pengetahuan awal siswa
Mengidentifikasi masalah, membuat keputusan untuk menyelesaikan permasalahan
Aktivitas-aktivitas ini dapat menggali pengetahuan awal siswa dengan baik, sehingga pengetahuan yang diterima pada fase berikutnya dapat dipahami dengan baik.               
b.         Exploration (menyelidiki)
Pada tahap ini siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok tanpa pengajaran langsung dari guru untuk menguji melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum dan telaah literature. Dalam keria kelompok siswa, guru tidak memberikan bimbingan secara langsung. tetapi berperan sebagai fasilitator.
Menurut Nadia (2011:14), aktivitas pada fase explore sebagaimana pada tabel berikut ini:
Tabel 2.2
Aktivitas Guru dan Siswa pada Fase Explore
No
Guru
Peserta Didik
1
Bertanya dan menyelidik
Berhipotesis dan membuat prediksi
2
Memberikan contoh jika diperlukan
Mengekplorasi bahan yang digunakan
3
Memberi saran
Membuat desain percobaan
4
Menyediakan alat dan bahan
Mengumpulkan data
5
Memberikan feedback
Membuat models
6
Menilai pemahaman dan proses
Mencari kemungkinan-kemungkinan


c.         Explanation (menjelaskan)
Fase ini guru mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri, meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan mereka, dan mengarahkan kegiatan diskusi. Siswa menemukan istilah-istilah dari konsep yang dipelajari. Salah satu perwakilan dari tiap-tiap kelompok maju ke depan kelas untuk menyampaikan hasil dari pengejaan Lembar Kerja Siswa (LKS).
Menurut Nadia (2011: 4), aktivitas pada fase explore sebagaimana pada tabel berikut ini:
Tabel 2.3
Aktivitas Guru dan siswa da Fase Explain
No
Guru
Peserta Didik
1
Memberikan umpan balik
Menjelaskan pengertian berdasarkan percobaan
2
Bertanya, memunculkan pertanyaan baru dan isu
Berbagi pengertian untuk umpan balik.
3
Mencontohkan atau menyarankan cara yang dapat dilakukan
Mengeneralisasikan

4
Memberikan penjelasan alternatif
Memikirkan hal yang masuk akal
5
Mengklarifikasikan penjelasan
Mencari penjelasan baru
6
Mengevaluasi penjelasan siswa
Menggunakan berbagai cara untuk menjelaskan (menulis, menggambar, dll)
d.        Elaboration (memperluas)
Pada fase ini siswa menerapkan konsep dan keterampilan dalam situasi baru melalui kegiatan-kegiatan seperti praktikum lanjutan atau problem solving yang dapat memperkuat dan memperluas konsep yang telah dipelajari. Pada fase ini guru diharuskan dapat memperbaiki miskonsepsi siswa, kemudian mengarahkan siswa pada permasalahan-permasalahan terkait materi yang direprentasikan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Setelah diajukan permasalahan, siswa kemudian dituntut untuk mendiskusikan hal-hal baru terkait materi yang dipresentasikan.
e.         Evaluation (menilai)
Fase ini merupakan kegiatan evaluasi terhadap efektifitas fase-fase sebelumnya dan juga evaluasi terhadap pengetahuan, pemahaman konsep, atau kompetensi siswa melalui problem solving dalam konteks baru yang kadang-kadang mendorong siswa melakukan investigasi lebih lajut. Hal ni menunjukkan bahwa proses dalam Learning Cycle tidak terputus.
Berdasarkan tahapan-tahapan dalam pembelajaran bersiklus seperti dipaparkan di atas, diharapkan siswa tidak hanya mendengar keterangan guru tetapi dapat berperan aktif untuk menggali dan memperkaya pemahaman mereka terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Hal ini tejadi karena “E” menampilkan proses bantuan bagi pengalaman belajar siswa untuk dihubungkan dengan pengetahuan sebelumnya dengan konsep baru (Nadia, 2011: 15), Pembelajaran ini membantu siswa dalam memproses informasi dari pengetahuan yang telah dimilikinya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri. Learning Cycle 5E memberikan kesempatan kepada siswa untuk meningkatkan keterampilan berpikir ilmiah siswa dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi secara tepat. Hal ini juga terlihat dalam kebersamaan kelompok dalam berdiskusi memecahkan masalah. oleh karena itu, melalui pembelajaran Learning Cycle 5E diharapkan terjadinya peningkatan keterampilan berpikir ilmiah siswa.


1.        Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E
Dilihat dari dimensi guru, implementasi model pembelajaran ini dapat memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan pembelajaran.
Menurut Hirawan yang dikutip Neni (2012: 32) kelebihan penerapan model pembelajaran Learning Cycle dilihat dari dimensi siswa adalah:
1.        Dapat memumbuhkan kegairahan peserta didik
2.        Meninggkatkan motivasi belajar, kerja sama, saling belajar, keakraban, saling menghargai, partisipasi. kemampuan berbahasa peserta didik
3.        Lebih berpeluang untuk menyampaikan pendapat dan gagasan
4.        Kegiatan belajar lebih mantap
5.        Pengetahuan yang didapat lebih melekat.
            Menurut Hirawan yang dikutip Neni (2012: 32), kekurangan Penerapan model ini sebagai berikut:
1.        Persiapannya memerlukan banyak tenaga, pikiran, dan waktu
2.        Memerlukan pendidik yang mampu mengelola kelas dan mengatur kerja kelompok dengan baik
3.        Membutuhkan media, fasilitas, dan biaya yatg cukup besar
4.        Sering didominasi oleh pimpinan kelompok
5.        Efektivitas pembelajaran rendah jika guna kurang menguasai materi dan langkah-langkah pembelajaran.
Dalam suatu model pembelajaran tentunya terdapat kekurangan dan kelebihannya, akan tetapi apebila kita mengetahui kekurangannya maka kita dapat memperkecil kemungkinan terjadi kekuranen itu dengan mengoptimalkan kelebihan yang terdapat di dalam model tersebut.