Comments

Sabtu, 25 Juni 2016

Buatlah Kebaikan Karena Setiap Masa Depan Adalah Kematian

Sumber gambar : muslim.or.id

Pada dasarnya, setiap masa adalah kematian. Itu merupakan hal yang lumrah dan tidak bisa tergantikan. Kita tidak bisa menolak begitu saja dan harus menerima dengan lapang dada bahwa masa depan kita adalah kematian. Dan kematian itu merupakan kenyataan yang akan kita alami. Pertanyaannya, sudahkah kita siap menghadapi kematian itu?

Setiap orang dengan umurnya masing-masing pasti menjawab pertanyaan demikian dengan penuh keraguan, baik siap ataupun tidak itu tergantung amalan selama hidup di dunia. Tidak memandang tua ataupun muda kematian menjemput siapa saja. Jika kita hanya mementingkan dunia saja maka hidup ini hanyalah sia-sia. Dunia ini bagaikan panggung sandiwara yang fana dan tidak kekal selamanya. Pun sebaliknya, jika kita hanya mementingkan akhirat saja tanpa memandang dunia, maka bagaikan susu tanpa pemanis, hambar rasanya. Jadi kunci kebahagiaan yaitu carilah dunia untuk mendapatkan akhirat. Itulah yang harus dilakukan oleh setiap manusia. Carilah dunia dengan niat ridha lillahi ta’ala, maka kebaikan dalam diri akan senantiasa terjaga. Seimbanglah dalam kehidupan terutama dalam hal Hamblum Minallah dan Hamblum Minannas. Berbuat baiklah kepada Allah juga berbuat baiklah kepada ciptaan-Nya. Baik manusia, hewan atau pun tumbuhan.

Setiap menjalani kehidupan ingatlah selalu kematian, rasakan bahwa kematian itu selalu membuntuti setiap saat karena kita tidak tahu kapan jiwa dan raga ini terpisah, kita tidak tahu mati dalam keadaan khusnul khatimah atau su’ul khatimah. Kita harus terima bahwa rumah masa depan adalah kuburan. Sedangkan bagaimana caranya membuat rumah terakhir menjadi rumah yang indah, jawabannya selalu ingatlah kematiaan. Karena dengan demikian hidup ini menjadi terjaga, terjaga dari hal-hal buruk yang siap menjerumuskan, terjaga dari godaan syetan yang setiap saat membawa kemadharatan dan menjaga sekuat-kuatnya keimanan dan ketaqwaan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَئِكَ أَكْيَاسٌ
Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1384)

Menurut Rasul SAW orang yang cerdas adalah orang-orang yang selalu mengingat kematian. Hal ini memang benar karena pada dasarnya kecerdasan itu diberikan oleh Allah SWT kepada manusia supaya digunakan dan dimanfaatkan di jalan yang benar. Tingkatan yang tinggi dari kecerdasan itu selalu digunakan untuk mengingat kematian. Dengan demikian jiwa dan raga jadi tergerak dalam banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang lebih kekal.

Di bulan Ramadhan ini, marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin. Juga hindari sejauh mungkin hal-hal buruk yang bisa menjerumuskan kita kepada kemudharatan. Karena kita tidak tahu apakah di masa depan akan bertemu kembali dengan bulan Ramadhan, hanya waktu yang bisa menjawabnya. Maka dari itu, pergunakanlah waktu ini dengan amalan yang membawa kita pada keimanan, hasilnya kita akan lebih siap dalam menghadapi masa depan yang sesungguhnya. Allah SWT berfirman :


وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلاَ أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, ‘Wahai Rabbku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih?’.” (Al-Munafiqun: 10)

Janganlah kita menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu kita berharap penangguhan. Karenanya, berbuat baiklah dan berbekallah! Persiapkan amal shalih, dekati hal-hal yang dipertintahkan-Nya dan jauhi larangan-Nya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


Penulis : Nurdin Akbar

0 komentar:

Posting Komentar